Our Voice

Gaydar: Ada Atau Mengada-ada? | OurVoice

Hasil penelitian terbaru: gaydar – gay radar – memang ada!

Gaydar, indera keenam kaum homoseksual untuk mengenali orientasi seksual seseorang, sudah lama jadi bahan diskusi. Di serial Sex in the City, misalnya, masalah gaydar sering muncul. Dan sekarang, sejumlah ilmuwan Belanda berhasil membuktikan: gaydar memang benar-benar ada.

Seringnya gaydar jadi bahan pembicaraan adalah salah satu alasan untuk menelitinya lebih lanjut, kata profesor Bernard Hommel. “Konsep gaydar ngetren sekali di buku dan film. Jadi, sebagai ilmuwan,  pertanyaan pertama yang muncul di benak saya adalah: gaydar itu benar-benar ada nggak, sih?”

Detail
Untuk membuktikan eksistensi gaydar, para peneliti memilih sekitar 40 hetero dan gay – laki-laki dan perempuan – sebagai kelinci percobaan. Mereka menerima foto yang dipenuhi detail kecil. Mereka lalu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai foto tersebut.

Walaupun hetero lebih cepat menjawab pertanyaan, jawaban mereka kurang detail. Sedangkan gay menjawab lebih lambat, namun bisa menggambarkan lebih tepat detail-detail yang terdapat di foto tersebut.

Menurut para peneliti, gay lebih teliti dan ketelitian itu juga mereka gunakan untuk menebak orientasi seksual seseorang.

Sedangkan perbedaan gaydar antara lelaki gay dan lesbian masih harus diteliti.

Hommel: “Kami tidak menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, baik di kelompok gay maupun hetero. Jumlah orang yang diteliti cukup untuk menyimpulkan perbedaan antara hetero dan gay, tapi tidak cukup untuk mengambil kesimpulan mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan.”

Penelitian ilmuwan Belanda ini sangat kontroversial. “Sampai sekarang hasil penelitian ini memancing diskusi panas. Kami telah menerbitkan hasilnya di internet. Juga di beberapa terbitan di Rusia, Cina dan tentu saja Eropa.”

Menurut kritikus, penelitian ini hanya bisa membuktikan bahwa gay bisa mengingat detail lebih baik ketimbang hetero. Tidak lebih.

sumber : www.rnw.nl

Gara-Gara Memasang Foto “Kissing” di Facebook,Dilarang menghadiri Wisuda

MANILA, Philippines. Sebuah sekolah Katolik di Filipina telah menahan izajah enam siswanya karena mereka telah memasang foto yang sedang berciuman di jejaring sosial dunia maya (facebook).

Samuel Mergenio dari department of education officer  mengatakan enam  siswanya tersebut telah  memasang  foto,  dengan bibir bersentuhan satu sama lain di halaman facebook mereka.

Pihak sekolah akan menahan ijazah mereka namun tetap diizinkan untuk mengikuti  acara wisuda. Ketika ditanya alasan kenapa pihak sekolah menahan ijazah siswa tersebut, Mergenio tidak bersedia berkomentar  panjang ia hanya mengatakan masih menunggu laporan resmi dari sekolah.

Sehari Sebelumnya, Cornelio Mercado seorang pengacara perempuan meminta pengadilan Filipina untuk mempertimbangkan kembali atas kasus enam  klien-nya yang dilarang untuk menghadiri wisuda, karena klienya tersebut telah memasang foto-foto “vulgar”. Saat mereka  berpesta merayakan ulang tahun salah satu kliennya pada desember 2011 lalu.

Menurut salah seorang  Facebooker’s  yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa, para siswi-siswi tersebut telah memasang foto-foto mereka di dinding facebook, ketika sedang berpesta dengan mengenakan bikini, ada botol minuman beralkohol, serta ada foto yang sedang merokok.

Wilfredo Navarro seorang Pejabat Pengadilan Daerah,  mengatakan “mereka tidak pantas melakukan pestapora sedemikian rupa, dan sudah sepantasnya mereka tidak di izinkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan wisuda”. Dan pihak sekolah juga menganggap tindakan lima siswinya adalah tindakan “tidak senonoh, kasar, dan cabul”.  Padahal saat melakukan pesta tersebut para siswi tidak berada di jam sekolah dan tidak mengenakan atribut seragam.

sumber : www.huffingtonpost.com

EVI, transgender mantan pengasuh Obama yang “terbuang”.

Jakarta – Evie tak pernah menduga jika suatu saat “Barry” Obama, seorang bocah kecil yang pernah diasuhnya akan menjadi  orang nomer satu di Amerika. Putaran waktu yang begitu cepat merubah segalanya dan kini Evi hanya bisa pasrah pada keadaan bahwa ia adalah seorang Transgender yang hidup dalam ketakutan.

Evie terlahir sebagai seorang yang memiliki gender lelaki namun dia percaya bahwa dirinya bukanlah seorang lelaki, tapi seorang perempuan. Saat berusia anak-anak, Evie sering dipukuli ayahnya, yang tidak bisa menerima anak lelakinya kemayu.

Kekerasan menjadi sejarah kelam yang menghantui hidupnya.  pemukulan  dan ejekan kerap kali ia alami, dan pada suatu ketika ia pernah dipaksa oleh seorang tentara memotong rambutnya yang panjang terurai,  saat sedang memotong rambut,  tentara tersebut meminta Evi menadahkan tanganya, kemudian  tentara tersebut mematikan puntung rokok yang sedang menyala ditangan Evi.

Dan pada tahun 1995, merupakan titik balik dalam kehidupan Evi. dalam sebuah razia, teman Evie yang juga Transgender – Susi, meloncat ke sungai yang penuh dengan sampah. Evie dan teman-temannya bergegas mencari Susi. Nahas, Susi kemudian ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa lagi. Sangat mengenaskan. Badannya bengkak dan mukanya hancur. Setelah kejadian itu ,  Evi mengumpulkan pakaian dan asesoris perempuannya ke dalam dua boks kardus. Lipstik, bedak dan kosmetik mata, dibuang.

“Saya tahu dalam hati yang paling dalam saya adalah perempuan, tapi saya tidak ingin mati seperti itu,” kata Evie, sekarang berusia 66 tahun.

Bibirnya gemetar mengingat masa silam.

“Jadi saya putuskan untuk menerimanya, hidup seperti ini, dalam tubuh seorang lelaki.”

Steik Daging dan Nasi Goreng

Evie. Dia memilih nama itu karena terdengar manis. Dia memperlihatkan kartu tanda penduduk. Nama aslinya Turdi dan berjenis kelamin lelaki.

Beberapa puluh tahun lalu dia sering berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Turdi, nama saat itu, bekerja selama dua tahun di rumah orangtua Barry Obama.Dia berbicara halus, pelan dan kekhawatiran terpancar dari matanya, namun ketika ditanya soal pengasuh, Gedung Putih tidak berkomentar.

Kemampuannya memasak menyebabkan dia berada di dapur rumah tangga pejabat tinggi. Saat itu masih remaja, dia menjadi pelayan di pesta koktail tahun 1969. Bertemu dengan Ann Dunham, ibunya Barack Obama, yang berada di Indonesia sejak dua tahun lalu, menikah dengan suami keduanya, Lolo Soetoro.

Dunham terkesan dengan steik daging dan nasi goreng yang dibuat oleh Evi, dan kemudian ia ditawari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dikeluarga Ann Dunham. Evie tidak hanya bekerja menyiapkan makanan tapi ia juga mengasuh Barry yang berusia delapan tahun, selain itu Evi juga mengantar dan menjemput Barry kesekolah.

Tetangganya sering melihat Evie keluar rumah, disaat petang hari dengan berdandan dan  ber-make up tebal. Ketika itu Evi sangat ragu jika sampai Barry mengetahui apa yang dilakukanya.

“Dia masih kecil,” kata Evie. “Saya tidak pernah mengizinkannya dia melihat saya berpakaian perempuan. Namun dia melihat saya mencoba memakai lipstik ibunya.”

Pekerja Seks

Ketika keluarga itu pindah awal tahun 1970-an, keadaan mulai tak terkendali. Evie pindah ke tempat pacarnya. Hubungan mereka berakhir tiga tahun. Untuk mencukupi kebutuhan hidup Evi kemudian memilih bekerja sebagai pekerja seks.

“Saya mencoba mencari pekerjaan sebagai pembantu, namun tidak ada yang mau mempekerjakan,” kata Evie. “Saya perlu uang untuk beli makan dan tempat tinggal.”

Evi sering dirazia, berlari menyelamatkan diri menerobos gang-gang semput, dinaikkan ke atas truk, dipukuli, merupakan konsekwensi yang harus diterima Evi sebagai seorang Transgender yang menjadi pekerja sek jalanan.

Sebagai pelipur lara atas luka hatinya, Evie memilih mesjid menjadi tempat untuk mendialogkan segala keluh kesah dan harapanya.

Evi  tidak tahu bocah lelaki yang pernah diasuhnya menang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008, sampai dia melihatnya di surat kabar dan televisi.

“Saya tidak percaya dengan penglihatan,” katanya sambil tersenyum lebar.

Temannya menertawakan dan menganggapnya sinting, namun mereka yang tinggal dekat keluarga itu membenarkan.

“Banyak tetangga yang ingat Turdi, dia populer waktu itu,” kata Rudi Yara, yang tingal di depan rumah Obama.

“Dia orang yang ramah, sabar dan sayang dengan Barry.”

Evie berharap mantan asuhannya peduli dengan orang seperti dia.

Pada tahun 2010 Obama menunjuk Amanda Simpson seorang transgender pertama yang menjadi penasehat senior pada departemen perdagangan.

Bagi Evie, dia sudah cukup dengan bertahan di jalanan Jakarta.

“Sekarang orang memanggil saya sampah masyarakat,” katanya.

“Tapi saya pernah mengasuh Presiden Amerika Serikat.” Jawabnya dengan sedikit rasa bangga.

Sikap Indonesia terhadap waria.

Tidak ada data pasti yang bisa diverifikasi untuk mengetahu seberapa banyak jumlah Transgender di Indonesia, baik itu transgender perempuan ataupun transgender lelaki.

Ancaman kekerasan yang dialami oleh para Transgender sangat nyata baik itu di Indonesia  ataupun di Negara lain di dunia. Menurut data the Trans Murder Monitoring Project setidaknya ada 1000 kasus pertahun. Mulai dari tindakan pembunuhan, pelecehan, serangan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Transgender, dan setidaknya ada satu orang Transgender yang meregang nyawa setiap harinya.

Penghinaan masyarakat  terhadap Transgender masih terus berlangsung,  dan penghinaan itu datang dari media televisi, banyak peran-peran Transgender diposisikan sangat “rendah” dijadikan bahan guyonan yang merelecehkan.

Tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi para Transgender membuat banyak Transgender  beralih ke dunia prostitusi. Andai saja Negara ini konsiten menerapkan undang-undang dasar  45 khususnya yang tertera pada pasal 28, mengkin sekarang Evi  tidak tinggal di sebuah gubuk  kecil di daerah kumuh padat penduduk  di sudut timur Jakarta.(yatna)

Disadur dari : hufingpost.com, dan beritasatu.com

Sumber gambar : hufingpost.com/AP. sumber video : youtube.com

Erotika: Tubuh, Nafsu Dan Spiritualitas

Jakarta. ourvoice.or.id – Erotika tidak perlu belajar dari Barat,karena sudah mengakar ada di Nusantara. Erotika di masyarakat Indonesia, ibarat bahan pangan seperti beras,gula atau garam yang dimport dari Barat,padahal sudah ada berabad-abad  di Indonesia. Bahkan sebelum kolonial dan agama-agama “import” datang ke bumi Nusantara.

Kira-kira begitu ungkapan Elizabeth D.Inandak, penyair asal Perancis yang menterjemahkan dan menafsirkan kembali sastra Serat Centhini (SC).  Karya “ulang” itu diberi judul Centhini,Kekasih Yang Tersembunyi. Melalui karya ini, Elizabeth banyak mendapatkan apresiasi oleh intelektual di Indonesia.  Diantaranya mendapatkan anugerah Lietary Prize for Asia (2003) atas karya tersebut.  Kali ini Elizabeth untuk kedua kalinya memberikan kuliah umum tentang Centhini di Komunitas Salihara, Jakarta, Sabtu (10/3/2012). Kegiatan ini bagian dari rangkaian kuliah umum di Komunitas Salihara tentang Erotika pada Maret 2012.

Serat Centhini sendiri sastra yang sering dijuluki sebagai karya adiluhunng yang erotik sekaligus mistik (religius). Tembang-tembangnya banyak berisi tentang persoalan seksualitas sampai yang paling intim dan “operasional”.  SC ditulis pada masa Pangeran Amangkunegara III yang menjadi Pakubuwono V di Solo (1820-1823 M).   Penulisnya tiga orang pujangga, Sastranagara-Ranggasustrasna-Sastradipura.  SC terdiri dari dua belas jilid, sembilan buku, 152 tembang dan 4.000 halaman. Semua sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Cerita dalam SC menampilkan tokoh Amongraga yang menikah dengan Tambanglaras. Sedangkan tokoh Centhini sebagai pendamping atau “pelayan” setia Tambanglaras. Menurut Elizabeth tokoh Centhini sering dianggap “misterius” karena bukan tokoh “besar” dalam cerita SC.  Tetapi tokoh Centhini seorang “pelayan” yang sangat abdi, setia dan menampilkan sosok yang penuh dengan “kesempurnaan” dan keserdahanaan sebagai manusia.  Mungkin tokoh Centhini sebagai simbol dari semua cerita keseluruhan dalam karya SC.

Selain itu, SC memberi pesan bagaimana menjadi manusia dapat memadukan antara nafsu, syahwat dan spritual menjadi satu kesatuan.  Menurut Elizabeth situasi ini disebut dengan “Erotisme tingkat tinggi”.  Dimana tidak lagi melihat seksualitas sebagai sesuatu yang kotor, hina dan tidak terjebak pada kepuasan tubuh dan nafsu belaka.  Tetapi lepas dari sekat-sekat identitas apapun, termasuk identitas kelamin ataupun orientasi seksual, tegas Elizabeth.  Hal ini seperti yang ada dalam tembang 72 SC, Empat Puluh Malam Dan Satunya Hujan. Sang tokoh suami-istri (Amongraga dan Tambangraras) melewati 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh (penetrasi) yang akhirnya menjadi satu kesatuan.Berikut isu tembangnya ;

Dikamar pengantin, angin diam mengembus kandil. Ini malam ke-39. Diranjang bidadari, Amongraga dan Tambangraras tidak lagi melihat ketelanjangan masing-masing maupun jarak pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan maupun buritan, raib pula garis batas air.
Dalam empuk hangat kegelapan, mereka merasa makin lebur menyatu tubuh.  Mereka saling menjadi yang lain dan pasrah keduanya pada dekapan keremangan. Suara mereka pun mengalir yang satu dalam yang lain dan juga dalam yang kian pasang.(Tembang 72)

Dalam makalah Elizabeth ditegaskan, dari malam ke malam, erotik dan mistik, tasawuf dan Asmaragama berkembang berbarengan sehingga pada akhirnya mistik terbakar oleh api erotika dan erotika terbakar oleh nyala mistik. Dua-duanya musnah. Yang tersisa hanya cahaya. Cahaya sayap-sayapnya sang Eros.

Tembang-tembang SC banyak bercerita tentang hubungan seksual dari mulai hal yang “liar” dari seksualitas perempuan sampai praktek hubungan seksual sejenis.  Sehingga dari pengalaman Elizabeth ketika melakukan riset tentang SC untuk memintah bantuan para tasawuf/tokoh agama Islam di Jawa, para ulama keberatan ketika diminta mentejemahkan bagian tembang SC khususnya cerita-cerita tentang seksualitas yang dianggap terlalu vulgar pada konteks kekinian.

Ini beberapa tembang yang dianggap sangat vulgar dan sangat “operational”;

…Jayengraga (laki-laki) berkata kepada Banem (perempuan): ” Karena kamu yang mau, lakukan sesukamu.” Mendengar ucapan itu jantung Banem berdegup, tak pernah seorang laki-laki mempertaruhkan diri kepadanya. Ia menyingkap sarung Jayengraga dan memegang zakarnya, besar dan panjang walau masih menggelantung. Ia belum pernah melihat barang seaneh itu. Banem bertanya kepada Jayengraga : ” Dan sekarang, apa yang harus kulakukan?”. “Wah! Aku tidak tahu. Yang kepingin yang memimpin.” Jawab Jayengraga. (Tembang 127)

Selain itu masih ada tembang yang bercerita praktek hubungan sejenis;

…..Cebolang (laki-laki) berkata: “Kutunggu petunjukmu.” Seorang Warok berkumis menyuruhnya menanggalkan sarungnya, ia menggenggam batang Cebolang dan mengelusnya tanpa henti melancarkan rayuan gombalnya. Cebolang terpesona karena batangnya cepat mengeras ditangan wangi sang Warok : ” Selama hidup belum pernah kulihatnya begitu besar!”

Sang Warok menyodorkan pinggulnya yang lebih luwes. Kemudian Cebolang menghunjamkan lingganya yang bimbang ke dalam gua tempat bergema ketidakmampuan sang macan dan ejekan rebana reog. Semua bersetubuh seperti kucing jantan dan betina…. (Tembang 48)

Bahkan adegan sejenis antara Cebolang dengan seorang Adipati juga digambarkan dalam karya SC ini ;

Adipati membisikan dengan menggelitik kepada Cebolang; “Aku ingin tanya kepadamu, mana yang lebih nikmat, menunganggi atau ditunggangi? Bedanya gimana?” Cebolang menjawab tertawa: “Sesungguhnya, perbedaannya sangat besar, lebih nikmat yang ditunggangi, tiada bandingnya. Bila yang memasukannya pintar, nikmatnya menjalar ke seluruh tubuh, dari  dasar bol ke semua saraf otak yang kepayang. Seluruh nadi silau detaknya jantung dan bahkan sumsum di tulang gemetar. Daging membara dan orang dapat merasakan tubuh nurnya.

Adipati tampak tergoda: “Benar yang kamu katakan? Ayo kita buktikan omonganmu!”

Cebolang membujuknya dengan kata-kata lembut sambil meraba tebing-tebing curam duburnya. Sang Adipati bagai terguna-guna, lupa ia pria, merasa menjadi perempuan, sarungnya melorot, batang Cebolang kerja keras menerobos jalan masuknya. Ia lalu membaca salah satu rapal konyol rahasianya. Zakarnya semakin mengeras dan akhirnya amblas ke lubang yang disodorkan itu.

Si Adipati terloncat, pandangan nanar, semua terasa berputar. Cebolang menyogoknya hingga ambang diri. Adipati berteriak: “Sudah! Jangan! Cukup! Tarik kembali lelemu dari jambangku!” (Tembang 52)

Begitulah beberapa isi tembang dalam SC yang dinilai sangat sensual dan erotis. Sehingga jika kita membacanya sepotong-potong dan tidak dikaitkan secara menyeluruh pesan karya ini, maka akan terkesan ini sebuah karya yang “porno”. Hal ini juga ditegaskan oleh Elizabeth, bahwa membaca karya SC tidak boleh hanya mengambil adegan-adegan “seksualnya” saja. Tetapi harus melihat makna keseluruhan yang memadukan antara nafsu dan mistik.  Sehingga melahirkan “erotika tingkat tinggi” yang melepas dari sekat apapun.  Seksualitas berpadu dengan spritualitas menjadi Eros, ungkap Elizabeth dalam buku tersebut.

Kita bisa bayangkan ketika tembang-tembang SC ini dihadapkan pada Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi pasal 1, meyebutkan:

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Dari definisi itu, bagaimana nasib tembang-tembang itu yang merupakan karya tulisan? Apakah kemudian karya besar itu akan dianggap sebagai barang pornografi?

Sepertinya para pembuat UU pornografi lupa akan kesejarahan bangsa sendiri. Sekarang ini, kita seperti dihadapkan pada soal ajaran Islam yang “buta”.  Padahal jelas dalam SC memaduhkan pendidikan sex dan seni bercinta  dalam konteks ajaran Islam serta budaya Jawa (yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha).

Pesan utama karya SC, yang paling penting dalam melakukan hubungan sex harus dijunjung tinggi kesetaraan, keadilan, bukan hubungan seks yang eksploitatif.   Sehingga pelecehan seksual, pemaksaan hubungan sex, pemerkosaan diruang publik maupun private bukan erotika yang diajarkan dalam karya SC ini.  Alasan itulah SC ini dinilai sebagai karya sastra yang sangat adiluhung.

Karya SC ini juga pernah diteliti oleh Dr. Mohammed Rasjidi dalam disertasinya berbahasa Perancis, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Pertimbangan Kritis Dalam Centhini (1956).  Sayangnya penelitian itu belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Rasjidi sendiri pernah menjadi menteri agama pertama RI masa pemerintahan Soekarno. Menurut Elizabeth, walau Rasjidi sendiri banyak tidak setuju makna didalam SC, tetapi melakukan kritis dan dialog dengan isi SC merupakan sikap yang sangat bijaksana.

Sepertinya kita (masyarakat Indonesia) mulai “mengingkari” kebudayaan, sejarah seksualitas di Nusantara Indonesia. Malu mengakui akan sejarah dan kebudayaan sendiri. Indikasinya banyak lahir kebijakan ditingkat nasional maupun daerah yang selalu menampilkan seksualitas manusia sebagai sesuatu kotor sehingga layak diredam. Lagi-lagi budaya Barat selalu dijadikan “kambing hitam” atas “kekotoran” erotika itu. Padahal sejarah budaya Barat penuh dengan moralis dan peredaman Erotika dan Mistik, berbeda dengan budaya Nusantara.

Dan yang paling ironis, kita sebenarnya sedang mengingkari kebertubuhan diri sendiri, sebagai manusia sensual sekaligus spritual. Padahal dua hal itu sesuatu yang sangat intim ada dalam diri manusia, apapun bentuk dan namanya.  Mudah-mudahan dengan diangkat kembali karya besar SC ini dapat menjadi bahan renungan bagi setiap orang tentang makna Erotika, sex,tubuh dan spitualitas. (Hartoyo)

Makalah Lengkap Elisabeth D.Inandak Dapat di Unduh :

Makalah_Diskusi_Centhini_Elisabeth_D_Inandiak

Dua Perempuan Biseksual Warnai American Next Top Model putaran ke 18

Ourvoice. American Next Top Model (sering disingkat ANTM) adalah sebuah acara  televisi  dengan format Reality Show (sebuah program televisi yang menyajikan situasi dramatisasi tanpa naskah yang pelakunya bukan aktor professional)

Kembali ke American Next Top Model, peserta dalam ajang ini seluruhnya perempuan dengan salah satu kriteria yang ditetapkan minimal usia 18 tahun dan maksimal usia 27tahun. Serta ia harus berdomisili di wilayah Amerika.

Pada putaran ke 18, LGBT diwakili oleh dua perempuan biseksual muda yaitu AzMarie dan Laura. Dan tema tahun ini adalah British Invasion. Menurut salah satu pendiri  dan juga ikon American Next Top Model, Tyra Banks ia akan “mengadu” kemampuan peserta dengan segala potensi yang dimilikinya serta ia ingin melihat kemampuan peserta mengelola emosional. Apakah pada titik tertentu ajang ini bisa membuat mereka saling “mencintai” atau bahkan saling “membenci”,ungkap Tyra.

Pada sesi perkenalan Laura 20tahun yang berasal dari Scotia, New York, dengan percaya diri ia mendefinisikan dan mengumumkan pada dewan juri dan peserta lain bahwa  dirinya seorang perempuan biseksual.  Begitu pula dengan AzMarie, 25, yang berasal dari Milwaukee, Wisconsin. Ia dengan bangga mengatakan ia mampu melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kaum maskulin dan juga disaat yang bersamaan ia juga sanggup melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kaum feminim dan ia juga mengatakan ketertarikanya pada perempuan didepan peserta lain dan juri.

American Next Top Model putaran ke 18 masih terus berjalan, akan banyak kejutan yang tak terduga yang datang dari peserta. Menang dan kalah, sedih dan gembira akan membayangi pada ajang ini, satu kabar yang positif adalah bahwa kini mulai banyak remaja LGBT di Amerika yang sudah percaya diri dengan pilihan orientasi seksualnya dan mereka membuka diri di ajang-ajang yang diikuti oleh ribuan orang. Sebuat aja Adam Lambert, Clay Aiken, David Archuleta, dan Kelly Cralkson (American idol). Mereka cukup member bukti bahwa keterbukaan bukanlah hal yang akan menghentikan langkahnya dalam berkarya, dan yang terpenting adalah professional dalam melakukan kerja-kerja.

Dan dalam konteks Indonesia ajang-ajang seperti ini kian terus diminati oleh para LGBT, Berdiri diantara ribuan antrian (peserta lain) bukanlah menjadi masalah besar karena “jika” ia berhasil ia akan mendapatkan tidak hanya popularitas tapi juga dukungan financial. Namun sangat disayangkan karena sampai saat ini belum ada yang berani menyatakan kejujuranya dalam ajang-ajang populis. Padahal dunia seni di isi oleh orang-orang yang cukup toleran terhadap perbedaan. (Yatna)

Sumber fhoto : http://forums.thefashionspot.com

Dia Adalah Anakku | OurVoice

Jakarta. ourvoice.or.id – Terbuka terhadap identitas sebagai homoseksual, bukan sesuatu yang muda bagi seorang gay maupun lesbian di Indonesia.  Jika selama ini berani terbuka atau biasa disebut dengan coming out hanya pada kelompok tertentu.  Misalnya sesama kelompok homoseksual sendiri ataupun dengan teman dekat sepermainan. Pilihan untuk menutup diri identitas homoseksual karena banyak faktor, salah satu dampak adalah diskriminasi, kekerasan dan stigma pada seseorang yang coming out.

Dari pengalaman Ourvoice bersama komunitas homoseksual ataupun biseksual, pihak yang paling “terakhir” atau sedikit mau terbuka dengan pihak keluarga.  Apalagi dengan kedua orang tua.  Banyak sebab mengapa seorang homoseksual tidak ingin menceritakan ataupun diskusi dengan kedua tua tentang orientasi seksualnya.  Selain ketakutan orang tua marah ataupun mendapatkan kekerasan, tetapi ada yang paling mendasar alasannya, biasanya seorang anak tidak ingin membuat kedua orang tua merasa “bersalah” atau sedih.  Merasa bersalah karena memiliki anak seorang gay. Jadi dasarnya karena kecintaan anak pada orang tua.  Tapi ada dasar lain juga tentang ketabuan pendidikan seks dibahas dalam keluarga.

Begitu juga orang tua sulit menerima anak homoseksual bukan semata-mata benci terhadap homoseksual tetapi karena tidak ingin anaknya mengalami kekerasan, ejekan dan kesulitan hidup dimasa depan.  Apalagi keyakinan agama yang sering mendasari bagi orang tua menolak anak  homoseksual.  Kuatir anaknya masuk neraka, begitulah salah satu faktor penolakan orang tua. Tapi sepertinya ada “benang merah” yang sama antara anak dan orang, sama-sama tidak terbuka-tidak menerima soal homoseksual, yaitu saling mencintai.

Berikut ini seorang ibu, bernama Asrianty yang telah bergulat pada diri sendiri ketika akhirnya menerima anak keduanya sebagai seorang gay. Bukan keputusan yang mudah ibu yang satu ini sampai pada putusan menerima orientasi seksual anaknya sebagai gay. Prinsipnya saya ingin anak saya bahagia dari apa yang telah dia pilih dan tentukan, ungkap Anty kepada team Ourvoice, Jakarta Selatan.  Berikut hasil wawancara team Ourvoice dengan Asrianty Purwanty.  Selamat mendengarkan.

Denmark,Resmikan Pernikahan Sejenis bulan Juni 2012

Perdana Menteri Denmark  Lars Lokke Rasmussen telah mengumumkan bahwa pernikahan sejenis akan dilegalkan pada 15 juni 2012. Copenhagen Post

Lars Lokke mengatakan : ” Pemerintah dan saya sangat yakin bahwa ini adalah langkah tepat  dialam dan masyarakat modern seperti Denmark. Legalisasi  akan berlaku pada tanggal 15 Juni, jadi ketika musim panas tiba kita akan melihat kaum gay dan lesbian menikah di gereja Denmark.”

Ms Thorning-Schmidt mengatakan: “Ini akan sampai kepada setiap imam apakah dia akan melakukan pernikahan gay, pemerintah memberikan keleluasaan pada siapapun untuk melakukan pernikahan di gereja, apakah mereka ingin menikah dengan orang yang berlawanan atau sesame jenis. ”

Denmark akan bergabung dengan negara-negara Eropa termasuk Islandia, Norwegia, Swedia, Belanda, Belgia, Spanyol dan Portugal dalam memungkinkan akses gay sama dengan pernikahan.

sumber :www.pinknews.co.uk/ /gambar : www.straight.com

Ciri-ciri Cowok “Bromance” | OurVoice

Seorang editor majalah skateboard tahun 1990an Dave Carnie menemukan sebuah istilah cowok “bromance” dan memasukkannya di majalah Big Brother yang ia kelola. Istilah ini muncul setelah Carnie melihat bahwa ada suatu jenis hubungan yang muncul dan berkembang di lingkungan para skater pria. Sebenarnya apa itu “bromance?”

Bromance adalah sebuah istilah yang berasal dari dua kata yang digabungkan yakni, “bro/brother (saudara laki-laki)” dan “romance (asmara).” Jadi, bromance adalah istilah untuk cowok yang mempunyai hubungan spesial dengan teman cowoknya. Hm..

Meski agak mirip, cowok “bromance” ini berbeda dengan cowok gay (homoseksual). “Bromance” hanya bersifat dekat dan tidak ada kaitannya dengan hubungan seksual seperti cowok homo. Terlepas dari semua itu, cowok “bromance” juga mempunyai ciri-ciri lho.

Berikut ciri-ciri cowok “bromance.”

1. Mereka memanggil teman cowoknya dengan julukan yang lucu.
2. Mereka menggunakan nada dering khusus di ponselnya untuk teman cowok terdekatnya. Satu lagu dari Bryan Adams “I will be right here waiting for you” bisa jadi nada dering yang dia pilih.
3. Film favoritnya adalah “I Love You, Man” atau “Batman and Robin” alias film yang bercerita tentang dua laki-laki yang saling menjaga dan membantu.
4. Mereka berbagi pakaian yang sama atau memiliki beberapa pakaian yang mirip.
5. Mereka memasukkan nomor telepon teman cowok di kontak telepon daruratnya.
6. Ketika mereka pergi untuk sebuah double date dengan ceweknya, mereka menghabiskan lebih banyak waktu berbicara dengan teman cowoknya daripada dengan pacarnya sendiri.
7. Mereka sibuk saling kirim SMS dengan teman cowoknya selama makan malam romantis.
8. Mereka menghabiskan banyak waktu di mall dengan salah satu teman cowoknya setiap akhir pekan.
9. Mereka sering menulis di dinding Facebook teman cowoknya atau mengomentari statusnya.
10. Mereka sering menceritakan kisah-kisah tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu teman cowoknya kepada pacar mereka.

Hayo, apakah tanda-tanda tersebut ada sama teman kamu? Bisa jadi, teman kamu itu termasuk cowok “bromance.” :)

sumber : www.ciricara.com

Budaya Keintiman Sesama Laki-laki di Arab

Foto: Goo

Saudi Arabia. ourvoice.or.id – Ketika King Abdullah mengunjungi Crawford ranch di tahun 2005, George W. Bush memberikan sambutan hangat dengan kecupan di kedua pipi, kemudian mereka mengelilingi ranch sambil bergenggaman tangan. Sejumlah media massa Amerika melontarkan komentar “negatif”.  Ada pula yang menyinggung soal orientasi seksual mereka karena bahasa tubuh ini tidak lazim dilakukan oleh dua laki-laki dewasa heteroseksual.  Namun, apakah benar gesture ini menandakan orientasi seksual tertentu?

Pertama kali datang ke Riyadh, saya menyaksikan sejumlah laki-laki bergandengan tangan mesra selepas malam di Olaya Street.  Saat itu, dengan naïf saya menganggap mereka sebagai pasangan homoseksual dan terkesima dengan bebasnya mereka mengekspresikan hubungan mereka di depan publik.  Apalagi sejumlah kolega sering bercerita tentang banyaknya gay di jalan-jalan Riyadh.

Setelah tinggal di ibu kota Saudi Arabia ini cukup lama saya mengetahui tata krama pergaulan yang berbeda dengan yang saya ketahui. Kecupan di kedua pipi dan bergenggaman tangan di kalangan masayarakat arab sebenarnya sebatas menunjukkan kedekatan antar laki-laki. Sahabat yang sudah lama tidak bertemu akan berpelukan dan saling mengecup pipi dan jika mereka dekat dengan seseorang mereka tidak ragu bergenggaman tangan sambil berjalan di tempat publik.

Seperti tertulis dalam artikel “Why Arab Men Hold hands,” di website New York Times, Samir Khalaf seorang professor sosiologi di American University of Beirut di Lebanon, mengungkapkan “bergenggaman tangan adalah ekspresi kasih sayang paling hangat antara laki-laki.” Ujarnya, “hal ini adalah petanda solidaritas dan kekerabatan.”

Lalu bagaimana seorang homoseksual arab mengungkapkan perasaannya pada orang yang dia suka? Ekspatriat Filipina dan Indonesia seringkali didekati lelaki arab ketika mereka berjalan di trotoar jalan. Mobil-mobil berhenti dan menawari ekspatriat-ekspatriat ini untuk ikut naik. Pengalaman serupa pernah saya alami sewaktu saya berjalan sendiri di dekat apartemen. Sebuah mobil mengikuti saya dan si pengemudi menawari saya untuk naik. Ketika saya menolak, mobil itu pergi, tapi tak lama kemudian memutar balik untuk menawari sekali lagi. Ketika saya berlalu tanpa mempedulikan si pengemudi yang bicara dalam bahasa arab, dia akhirnya pergi.

Memijat adalah cara lain yang sering mereka gunakan untuk mengajak seseorang datang ke kamar mereka. Seorang homoseksual asal Mesir bercerita bahwa dia pernah berhubungan seksual dengan seorang pria Indonesia dan memulai interaksi mereka dengan cara ini. “Indah sekali,” ujar pria mesir bertubuh besar itu sambil mengenang, “kulitnya sangat halus seperti perempuan.” Sekarang pasangannya bekerja di Jeddah dan mereka jarang bertemu lagi.

Seorang homoseksual Filipina yang pernah bekerja sebagai waiter bercerita pada saya bahwa kalau pria arab tertarik dengan anda, mereka akan mengungkapkannya secara terus terang dan menemukan mereka pun bukan hal yang sulit, “Saya memilih bekerja shift malam supaya bisa bertemu dengan mereka,” ujarnya. Seorang teman yang bekerja di hotel sebagai butler bercerita bahwa dia pernah ditawari berhubungan seks oleh tamunya yang masih punya hubungan dengan keluarga kerajaan. “Saya menolak,” katanya, “tapi dia bisa mengerti kalau saya tidak tertarik. Sekarang dia masih menjadi tamu saya yang baik. Kalau kamu tidak suka, bilang saja tidak suka. Dia pasti mengerti.”

Seperti dilaporkan dalam artikel “The Kingdom in the Closet,” yang ditulis oleh Nadya Labi, meskipun hubungan sesama jenis bisa dikenakan hubungan mati, pada nyatanya hubungan ini lebih mudah dilakukan di Saudi Arabia dibandingkan hubungan heteroseksual. Polisi syariah, atau yang lebih dikenal dengan Mutawa akan menginterogasi laki-laki dan perempuan yang berjalan bersama-sama. Sebaliknya pasangan homoseksual lebih leluasa pergi kemanapun, bahkan ke rumah pasangan mereka sepanjang hubungan mereka dirahasiakan. Selain itu, pasangan homoseksual yang keduanya atau salah satunya beretnis arab, bebas berjalan bergenggaman tangan dan saling mengecup pipi di tempat umum, tindakan ini tidak dipermasalahkan karena justru merupakan kultur mereka. (J Katz – Arab Saudi)

Betina Dibalik Jantan | OurVoice

Bukan tuan!
Saya bukan mau ke neraka
Memang saya semburit
Langgar hukum bumi
Terdakwa, tak dibela

Agama saya membuang
Kampung saya mengusir

Sang Maha Mencipta Segala,
Mengapa ada saya?
Di antara Adam
Di antara Hawa
Saya, tidak meminta..

Sang Raja Segala Raja,
Saya mau sempurna
Mohon menyata mimpi pemburit
Saya betina dibalik jantan
Vagina haus dalam zakar kering
Saya, tak meminta..

Sungguh tuan..
Ingin saya hanya selaras
Kembar jiwa ini dan jasad
Apa salah?
Saya lain
Kalian memanggil banci!

Saya..
Mau berpangkat nyonya
Punya kaum
Saya mau bersama
Saya rindu sepadan
Memasak kambing dengan ibu-ibu

Tuan-tuan
Saya meminta..
Anggaplah saya wanita

Tuhan di surga
Saya meminta..
Jadikan saya anak perempuan
Saya lemah, saya lembut
Saya wanita
Bukankah Kau yang mencipta?

Oleh : Sarah M