Pekan Olah Raga Waria di Yogyakarta berlangsung Meriah

JOGJA—Sebanyak 150 waria di DIY mengikuti pertandingan olahraga yang diadakan Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) di Dalem Notoprajan, Senin (5/3). Acara tersebut diikuti sembilan komunitas waria di DIY. Adapun cabang olahraga yang diperlombakan adalah futsal, bola voli, tenis meja, lari estafet, dan tarik tambang.

Ketua Iwayo, Sinta Ratri mengatakan, acara tersebut digelar untuk menggalang keakraban antar komunitas waria di DIY. Olahraga menjadi pilihan kegiatan karena merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh waria di komunitasnya masing-masing.

“Masih ada juga pandangan negatif kalau waria itu identik dengan salon, pengamen, dan terlebih pelacuran. Dengan ini kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa waria tidak hanya sebatas itu, tapi bisa melakukan hal positif,” ujarnya kepada Harian Jogja di sela-sela acara.

Ia menambahkan, selama ini Iwayo juga aktif membangun citra positif dengan melakukan advokasi ke media dan lobi ke pemerintah untuk mendapatkan kesempatan yang sama sebagai warga negara.

“Seperti hak punya KTP, dan kesempatan bekerja, selama ini tidak terbuka karena keterbatasan gender,” imbuh dia.

Marta, Salah satu peserta dari komunitas waria Bantul mengatakan, ia senang dapat mengikuti acara tersebut. Ia berharap jalinan kearaban antar komunitas yang sudah terjalin dapat meningkat lebih erat lagi. Selain itu, ia juga berharap akan semakin banyak teman dengan mengikuti acara.

Acara tersebut akan berlangsung selama tiga hari (5-7/3). Selain diikuti komunitas waria DIY, komunitas waria dari Solo juga turut diundang. (ali)

sumber berita : http://www.harianjogja.com

sumber fhoto : http://sepakbola.lintas.me

Pemerintahan Obama Pekerjakan 150 Gay Dan Lesbian

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mencetak rekor karena mempekerjakan lebih dari 150 gay dan lesbian dalam pemerintahannya. Para penyuka sesama jenis tersebut dipekerjakan di berbagai divisi, mulai dari kepala agen, anggota komisi, staf senior, hingga pejabat pembuat kebijakan.

Seperti dikutip VIVAnews dari laman Associated Press,  hal ini diketahui berdasarkan data yang diungkap sebuah organisasi gay dan lesbian di Amerika. Organisasi ini menyebut, dari 150 gay dan lesbian tersebut, 124 di antaranya menduduki jabatan pejabat senior pemerintahan. “Mereka bekerja karena ditunjuk langsung oleh Obama,” ujar Denis Dison, juru bicara institusi tersebut.
Dia mengaku mendapat kabar dari pemerintahan, bahwa para gay dan lesbian sengaja dipekerjakan Obama karena pemerintahan Obama ingin keberadaan mereka menjadi bagian dari usaha keberagaman. Kebijakan Obama ini sekaligus untuk meredam kekecewaan para aktivis gay yang menilai, Obama tidak cukup tanggap mengatasi masalah diskriminasi gay dan lesbian. Masalah yang paling banyak disorot di antaranya adalah kebijakan “jangan tanya, jangan ceritakan” yang melarang gay untuk berkarir di kemiliteran.

Lesbian pertama yang bekerja di Gedung Putih sekaligus pembuka jalan bagi kaum homoseksual lainnya adalah Roberta Achtenberg pada tahun 1993. Dia menjabat sebagai wakil menteri perumahan dan perkembangan kota pada pemerintahan Bill Clinton.

Sejak tahun 2008, institusi ini telah membantu menyeleksi ribuan pelamar dari para gay dan lesbian yang masuk untuk menjadi staf pemerintahan AS.  Dison mengatakan bahwa mereka juga berusaha mendorong meningkatnya angka gay dan lesbian di pemerintahan.
Michael Cole, dari organisasi HAM gay, Human Right Campaign (HRC), mengatakan bahwa peningkatan jumlah gay dan lesbian pada Gedung Putih adalah sebuah perkembangan yang membanggakan. Namun menurutnya, hal lain yang lebih penting lagi adalah melakukan peningkatan pada undang-undang.  Diantaranya yang perlu diperjuangkan adalah pencabutan kebijakan “jangan tanya, jangan katakan” di militer AS dan penarikan undang-undang perkawinan yang tidak mengakui pernikahan sejenis.

Kalau Obama di pemerintah AS memberikan “afirmatif” khusus bagi kelompok gay dan lesbian, bagaimana dengan pemerintahan SBY di Indonesia?  Ourvoice memastikan bahwa kelompok gay dan lesbian juga ada di jajaran pemerintahan SBY, tetapi yang membedakan pemerintahan Obama melakukannya lebih sadar dan politis sedangkan pemerintahan SBY “pura-pura malu”.

Sumber : vivanews.com dan berbagai sumber

Nepal sahkan “jenis kelamin ketiga”

VIVAnews – Ribuan bayi di dunia lahir tanpa hitungan kromosom yang jelas, mereka mungkin memiliki alat kelamin laki-laki, atau perempuan–atau bahkan campuran keduanya. Yang terakhir disebut interseksual.

Anak-anak dengan kategori ini tak memiliki kromosom seks spesifik, hormon yang fungsinya berbeda dari kebanyakan orang, bahkan memiliki alat kelamin yang tak dapat dipastikan.

Salah satunya dialami Diana Hartmann. Saat pada 1965, dokter tak bisa menjawab pertanyaan: bayi itu lelaki atau perempuan? Mereka hanya mengatakan, “jabang bayi lahir sehat, tapi jenis kelaminnya “tidak jelas”. Dokter lalu memutuskan, ia adalah lelaki, dan ingin mengoperasinya. Namun ibunya menolak. Ia melihat gambaran gadis kecil dalam bayinya. Itulah mengapa ia dinamai Diana.

Akibatnya, Diana hidup dengan identitas interseksual hingga dewasa. “Tidak ada yang menyebut saya normal,” kata Hartman.

Kasus Hartmann tak unik. Sebab, seperti dimuat Die Welt, setiap tahun diperkirakan antara 80 sampai 120 bayi “interseksual” lahir di Jerman. Ini menjadi masalah dalam masyarakat yang membedakan secara tegas antara dua jenis kelamin. Tak hanya orang tua dan dokter yang bingung, tapi juga pejabat berwenang.

Untuk diketahui, di bawah hukum Jerman, jenis kelamin anak harus didaftarkan dalam waktu satu minggu setelah lahir. Terdapat pengecualian pada beberapa kasus, namun hanya sebelum anak itu mencapai masa puber.

Sejak Desember 2010, Dewan Etik Nasional Jerman yang mendapat amanat dari pemerintah federal: memastikan anak-anak dengan kondisi istimewa bisa hidup bermartabat dalam masyarakat. Dewan pun berkonsultasi dengan para ahli medis, hukum, dan ilmu sosial. Juga mendengar masukan dari kaum interseksual. Laporan akan dipublikasikan dalam beberapa minggu.

Ada dua isu utama yang jadi perdebatan. Pertama, apakah “jenis kelamin ketiga” perlu diperkenalkan. Kedua, apakah seorang interseksual diharuskan operasi– menjadi pria atau wanita. Jika ya, dalam usia berapa dan dalam kondisi apa.

Di masa lalu anak-anak interseksual akan dioperasi di tahun pertama kehidupannya, dengan asumsi, penetapan jenis kelamin sejak dini akan mencegah trauma di masa depan. Praktek itu kerap dilakukan sampai saat ini.

Sejarawan medis, Ulrike Kloppel dari Humboldt University, Berlin mengusulkan, kolom jenis kelamin dihapus atau setidaknya pengisiannya bisa ditunda lebih lama untuk mengakomodasi keinginan anak-anak interseksual. Untuk menentukan sendiri jenis kelamin mereka.

Sementara Diana Hartmann justru mengaku ragu dengan definisi “jenis kelamin ketiga”. Ia khawatir, nantinya justru berujung dengan isolasi yang semakin parah terhadap kaumnya. Sebab, tak ada definisi yang jelas tentang perbedaan dengan dua jenis kelamin lainnya.

Nepal sahkan “jenis kelamin ketiga”

Saat Jerman masih berdebat, di Nepal, jenis kelamin ketiga telah diakui. Seperti dimuatHuffington Post, 27 Februari 2012, pengakuan diawali perjalanan panjang Badri Pun: inspirasi dari hasil kunjungannya ke Yogyakarta pada 2006 membuatnya memutuskan bertindak. Ia tidur di halaman berbatu di pedesaan Nepal selama seminggu. Bergelung dengan selimut wol, menggenggam kertas-kertas legalitasnya sebagai warga negara — akte kelahiran, SIM, dan kartu tanda penduduk.

Setiap hari ia ke luar masuk gedung pemerintahan, bersikeras dengan argumen: ada yang salah dengan kolom identitasnya. Setelah 12 hari, ia dinyatakan menang. Badri Pun mendapatkan kartu identitas baru. Dalam kolom jenis kelamin tertulis: “jenis kelamin ketiga”

Keputusan Pengadilan Nepal sangat mengejutkan. Lalu, pada 21 Desember 2007, Pemerintah Nepal memerintahkan penghapusan hukum yang diskriminatif, dan menetapkan status “jenis kelamin ketiga”.

Jenis kelamin ketiga di Nepal adalah kategori dari seseorang yang tak mendefinisikan dirinya sebagai perempuan atau laki-laki. Termasuk, bagi mereka yang saat lahir tidak jelas jenis kelaminnya.

Nepal memang bukan yang pertama mengakui jenis kelamin ketiga. India juga punya kategori itu, namun tak sekomperehensif Nepal.

Pada 2005 di India, jenis kelamin ketiga boleh ditulis di paspor sebagai “kasim” (eunuch) atau simbol “E”. Pada 2009 ‘E” mulai dikenalkan dalam dokumen pemilihan umum. Setelah Nepal mengakui jenis kelamin ketiga, India mulai menambahkan kategori itu dalam sensus kependudukan.

Sementara, Australia dan Selandia Baru,  memiliki “X” sebagai pilihan, selain “M” (man) atau “F” (female) pada aplikasi paspor.

Bangladesh juga memungkinkan warga negara berjenis kelamin ketiga berpartisipasi dalam pemilihan umum, dengan kategorisasi “kasim.” Demikian juga Pakistan. Mahkamah Agung juga meminta pemerintah mengeluarkan opsi jenis kelamin ketiga dalam KTP. Namun, sudah tiga tahun, tidak satu pun KTP semacam itu diterbitkan.(np)

sumber photo dan berita : http://fokus.vivanews.com

Muhsin Hendricks, Homoseksual bukan sebuah Dosa

Pria Afrika Selatan, Muhsin Hendricks (43) adalah seorang imam dan homoseksual. Yayasannya The Inner Circle membantu orang-orang muslim yang bergulat dengan seksualitas mereka. Pesannya: “Muslim dan homo boleh!” Tidak semua orang setuju dan oleh karena itu pula Hendrick resminya sudah bukan imam lagi.

Imam Muhsin Hendricks tampak kecapaian. Ia berada di Belanda atas undangan organisasi homoseksual Belanda COC di Amsterdam. Agendanya padat. Keingintahuan orang terhadap ‘imam merah muda’, demikian julukannya, sangatlah besar.

Keletihan hilang
Namun ketika ia bicara tentang iman serta orientasi seksualnya, maka tanda-tanda keletihan itu sudah tidak tampak sama sekali.

“Menjadi muslim dan menjadi homo, keduanya identitas yang kuat. Keduanya menjadi bagian dari siapa saya. Saya berhasil mendamaikan keduanya.”

Bagi Muhsin Hendricks, itu tidaklah mudah. Ia berasal dari keluarga muslim ortodoks di Afrika Selatan. Kakeknya adalah imam di mesjid agung di Capetown. Sejak kecil Muhsin menyadari dirinya berbeda. Pada usia muda, ia lebih suka bermain dengan boneka, bukan mobil. Ia juga dipandang sebagai keperempuan-perempuanan sehingga sering diolok-olok. Ia baru tahu kalau homoseksualitas itu ada jauh sesudah itu.

Hendricks mencari kedamaian pada imannya, yang menurut banyak orang muslim tidak memiliki ruang bagi perasaan homoseksual, mencintai orang sejenis, baik antara laki-laki atau perempuan, dilarang. Itu merupakan salah satu dosa paling besar, yang hukumannya di sejumlah negara islam adalah: kematian.

Seksualitas bukan pilihan
Muhsin Hendricks memutuskan untuk mencari tahu apa kata Al-Quran mengenai homoseksualitas. Ia mengambil studi islam di Pakistan.

“Saya tidak bisa mempercayai apabila Allah yang maha kasih dan penyanyang mengutuk saya untuk sesuatu yang saya sendiri tidak memilihnya.”

Muhsin Hendricks mengambil kesimpulan dari studinya. Tidak disebut di manapun dalam Al-Quran bahwa homoseksualitas itu dilarang. Tidak pula dalam cerita Sodom dan Gomora, kota-kota yang dihancurkan Allah karena laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki. Menurut Hendricks, penduduk kota itu dihukum karena perkosaan, bukan karena hubungan seks.

Cerai
Ada ayat-ayat dalam Al-Quran di mana Allah mengakui keberadaan homoseksual, kata Hendricks. Seperti dalam surat Sura 24 ayat 31. “Disebutkan bahwa perempuan harus berpakaian ekstra ketika keluar rumah….. Tapi tidak di depan laki-laki yang tidak tertarik terhadap mereka. Mereka ini pasti homo,” kata Hendricks.

Mengakui bahwa ia menyukai sesama jenis dan terbuka mengenai hal itu, masih terlampau jauh bagi Hendricks. Oleh karena itulah ia sempat menikah dan memiliki tiga anak. Istrinya tahu bahwa suaminya homo, tapi memutuskan untuk tetap bertahan.

Imam Hendricks dihormati sebagai imam di mesjid-mesjid Capetown karena pengetahuannya. Namun perasaan menyukai sesama jenis tidak pernah luntur. Sesudah enam tahun menikah, akhirnya ia bercerai. Itu bisa dibilang saat Hendricks resmi ‘buka-bukaan’.

Pingsan
Ibunya pingsan ketika mendengar putranya Muhsin homo. Namun perlahan-lahan muncul pengertian. Sebagian dari keluarganya tidak mau lagi melihatnya.

Imam Hendricks, sementara ini telah menemukan pasangan hidupnya. Pasangannya itu beragama berbeda, Hindu, dan masih belum ‘buka-bukaan’.

Karirnya sebagai imam berakhir begitu saja. Pemahamannya mengenai homoseksualitas dan Islam tidak dianggap sesuai dengan doktrin resmi. Ia dicap sebagai penganut syaitan. Hendricks tidak pernah menerima ancaman fisik, tapi banyak kritik di sekelilingnya.

Bukan musuh
“Para imam melihat saya sebagai ancaman terhadap pandangan mereka mengenai Islam. Tapi saya bukanlah musuh. Saya mengundang mereka untuk terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Penafsiran saya memberi orang muslim peluang untuk terus menjadi muslim dan sekaligus menerima diri sendiri.

Muhsin Hendricks tetap menganggap dirinya sebagai imam. Dengan yayasannya The Inner Circle, ia berupaya membantu sesama muslim yang hendak coming out – membuka jati diri sebenarnya. Hendricks menyelenggarakan seminar pemberdayaan bagi anak-anak muda mengenai kesadaran diri. Ia juga akan mengadakan seminar seperti ini di Belanda. Sudah enam puluh orang yang mendaftar.

sumber : www.rnw.nl

Militer Australia Akan Rekrut Lebih Banyak Perempuan dan Gay

CANBERRA – Panglima Angkatan Darat Australia menyerukan perekrutan lebih banyak wanita, gay dan etnis minoritas di militer. Alasannya, perubahan demografis negara tersebut membuat hal itu tak bisa dihindari.

Dalam pidatonya di Institut Sydney, Panglima Angkatan Darat Australia, Letnan Jenderal David Morrison mengatakan, militer Australia harus terus mempertahankan budaya tempur yang kuat.

“Namun kita juga perlu mengakui bahwa budaya ini cenderung meniadakan perempuan dan beberapa kelompok etnis yang kurang terwakili di jajaran kita,” kata Morrison seperti dilansir AFP, Rabu (29/2).

“Ini akan terbukti tak bisa berlanjut seiring perubahan demografis yang terjadi di negara ini dalam dekade mendatang,” imbuhnya.

Dikatakan Morrison, dirinya berkomitmen kuat untuk memperluas keberadaan perempuan dan gay di Angkatan Darat serta menghilangkan beberapa hambatan yang mencegah kaum perempuan berperan di medan tempur.

“Saya pikir banyak perempuan yang tidak sabar untuk ini dan terus mendorong agar ini terjadi. Dan itu bagus dan kami akan memberikan mereka kesempatan untuk itu,” tutur Morrison.

sumber fhoto dan berita : http://news.detik.com

Majalah LGBT Dibajak oleh Hacker

Kemarin, Seorang hacker yang belum terlacak keberadaannya telah melakukan pembajakan  terhadap sebuah majalah LGBT ternama di Tunisia “GayDay”.  Selain majalah,  hacker itu juga telah membajak email, tweeter, dan accout Facebook. Padahal password yang gunakan sudah kompleks memiliki termasuk simbol, angka dan huruf.

Sebelumnya hacker tersebut telah mengubah nama majalah tersebut menjadi “ Majalah harian sampah”.

Serangan ini terjadi karena Majalah GayDay melakukan kampanye internasional mengutuk aksi pembantaian emo dan gay di Irak.

Fadi, editor Majalah Gayday berkata: “hacker Tunisia, hanya itu yang saya tahu untuk saat ini mengenai identitas mereka. Mereka tampaknya benar-benar bertekad untuk menghancurkan data-data yang kita miliki. Mereka tidak ingin membuka dialog, mereka hanya bertekad untuk membungkam kita. ‘

Sejak akun email, Tweeter, dan Facebook di hack. Pihak majalah mengatakan ini berpotensi sensitif karena informasi kontak disimpan online.  Dan ini sangat  berisiko, terutama karena beberapa anggota berada di sebagian besar Negara Arab.

Fadi juga mengatakan  tidak mampu untuk mendapatkan kembali kontrol atas pengguna Facebook dan Twitternya karena  telah dihapus oleh hacker tersebut.

Seorang  Menteri Samir Dilou dan seorang selebriti Populer Samir Wafi telah menyerukan menolak majalah GayDay, juga menyerukan untuk menentang hak kebebasan berekpresi bagi LGBT, serta membuat pernyataan  bahwa LGBT adalah suatu “penyakit” bukan hak manusia.

Fadi menambahkan: “Tidak mengherankan, ini akan skenario besar dari pemerintah dalam mengalang kekuatan bersama para pemimpin agama untuk menerapkan hukum syariat, sebagai aturan hukum yang berlaku yang akan diterapkan oleh pemerintah.

Sumber : www.pinknews.co.uk

Lesbian Idol, Regina Spektor siap luncurkan Album baru

New York – Lesbian Idol Regina Spektor , Penyanyi dan pencipta lagu berdarah Amerika-Rusia, Regina Spektor baru saja mengumumkan sampul album terbarunya, What We Saw from the Cheap Seats yang menurutnya, “terlihat menyenangkan dan nyata, Anda dapat merasakannya seperti sebuah sentuhan tangan manusia dan digambar langsung.”

Kepada Rolling Stone, solis yang akan merilis album keenamnya pada 29 Mei 2012 mendatang ini mengatakan bahwa dirinya tidak ingin ada cetakan huruf dalam sampul album terbarunya.

“Saya ingin hal-hal seperti tulisan tangan. Album ini bukanlah (hasil rekaman) analog dan kita tidak tinggal di sebuah dunia analog, namun itu serasa sangat analog bagi saya. Saya cenderung untuk merasakan ‘seseorang manusia pernah di sini’ dari pada sebuah cetakan huruf dari komputer, di kotak (album) itu,” terang Regina.

Selain menghindari cetakan huruf dari komputer, penyanyi yang mengawali penampilan dunianya sebagai artis pembuka dari band-band seperti the Strokes, Kings Of Leon, dan Keane ini juga bercerita tentang properti yang digunakannya dalam sesi pemotretan sampul albumnya itu.

Dalam sampul tersebut terlihat Regina mengenakan topi merah hitam yang diakuinya didapatnya dari Jepang. “Saya mendapatkan topi itu di Jepang ketika saya bermain di sana, dan saya harus memakainya dengan sebuah kaus sehingga tidak terlihat berantakan, tapi itu masih sedikit terlihat berantakan,” katanya lagi.

Menurut NMEWhat We Saw From The Cheap Seats sendiri merupakan album kerjasama sang solis dengan produser yang juga menangani Avenged Sevenfold dan Maroon 5, Mike Elizondo. Single pertama, “All The Rowboats” dari album ini pun telah dirilis Regina pada 28 Februari lalu.

Sementara itu dikabarkan pula penyanyi penganut musik anti-folk ini sedang mempersiapkan sebuah rilisan yang akan diluncurkan dalam bentuk piringan hitam 7” dalam perhelatan Record Store Day April mendatang. Rilisan itu akan berisi dua lagu Rusia yang diaransemen ulang Regina berjudul “The Prayer Of Francois Villion” dan “Old Jacket”.

sumber : www. rollingstone.co.id

Kriminalisasi Terhadap LGBT Kembali dibicarakan di India

Pembicaraan soal hak kelompok gay tengah menjadi sorotan di India, karena kelompok agama dan sosial yang konservatif tengah berkampanye kepada Mahkamah Agung. Mereka menantang putusan Pengadilan Tinggi Delhi pada 2009 lalu yang menolak kriminalisasi hubungan seksual sesama jenis antara dua orang dewasa. Pemerintah berada dalam tekanan karena sebelumnya menolak putusan Pengadilan Tinggi lantas berbalik menarik sikap tersebut. Mahkamah Agung mempertanyakan pemerintah, meminta untuk bersikap tegas untuk isu ini. Laporan selengkapnya bersama Bismillah Geelani.

Bindumadhav Khire, 48 tahun, adalah salah satu penulis kenamaan India yang adalah seorang gay.

Dia menyadari orientasi seksualnya tersebut saat berusia 20 tahun.

“Saya tahu saya berbeda, karena saya tidak merasakan apa yang teman-teman saya rasakan soal perempuan. Saya lantas membaca sejumlah buku dan dari situ saya menyadari kalau ini adalah sebuah kelainan, sejak itu rasa percaya diri saya langsung hilang. Saya menjadi orang yang sangat buruk. Saya mencoba bunuh diri beberapa kali. Saya sangat membenci diri sendiri karena diri saya. Dan saya takut kalau ayah ibu saya mengatahui, ini akan menghancurkan keluarga saya.”

Khire tak mampu mengumpulkan keberanian untuk menyatakan dirinya gay di hadapan orangtuanya. Ia akhirnya menikah dengan seorang perempuan.

“Kami lantas bercerai setahun kemudian. Ini perceraian yang menyakitkan, menyebabkan begitu banyak luka bagi kedua orangtua saya. Mereka adalah keluarga tradisional dengan harapan-harapan tentang keluarga bahagia dan punya cucu, dan sebagainya.”

Khire kini memiliki sebuah yayasan yang memberikan dukungan kepada kelompok lesbian, gay, biseksual dan waria, LGBT, berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang alternatif seksual.

Ada sekitar 15 juta homoseksual di India. Kebanyakan dari mereka masih ‘tertutup’ seperti Khire beberapa tahun lalu.

Pada 2009 lalu sebuah putusan luar biasa dikeluarkan oleh Pengadilan Tinggi Delhi, menolak kriminalisasi terhadap hubungan homoseksual antara dua orang dewasa. Putusan ini membawa perubahan radikal.

Putusan ini menganulir aturan hukum di masa penjajahan dahulu yang menganggap hubungan seks antara gay adalah kriminal yang bisa dihukum sampai 10 tahun penjara. Pengadilan Tinggi menganggap undang-undang itu tidak konstitusional.

Wendle Rodricks adalah perancang busana yang juga seorang gay dari Mumbai.

Ia masih ingat menari dan bernyanyi bersama komunitas LGBT di jalanan merayakan putusan ini.

“Putusan ini disampaikan dengan kalimat yang sangat indah, bahkan memasukkan filosofi dari Nehru soal inklusivitas. Ini membuat saya merasa kalau saya adalah bagian dari masyarakat. Ini membawa rasa percaya diri yang begitu besar.”

Organisasi keagamaan dan sosial yang konservatif segera mengajukan petisi untuk mengubah putusan tersebut.

Mahkamah Agung mulai membuka pembahasan soal 15 petisi itu bulan lalu.

Salah satu orang yang mengajukan petisi adalah Rakesh Sinha, profesor bidang sejarah dari Universitas Delhi.

“Masyarakat India sangat toleran, memberi ruang untuk pandangan-pandangan yang berbeda. Tapi ini tak berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita mau. Atas nama keterbukaan, modernitas dan demokrasi kita tak bisa menyerap semuanya. Moral publik tidak hanya berasal dari masyarakat, tapi juga dibentuk berdasarkan sejarah. Homoseksual sudah lama ada di India, seperti di tempat-tempat lain di seluruh dunia, tapi mereka adalah kelompok minoritas yang sangat kecil. Mereka selalu ada, dan tidak ada yang menolak kehadiran mereka. Tapi apa yang terjadi sekarang adalah perayaan atas perilaku homoseksual, ini tak bisa diterima.”

Dalam dua tahun belakangan, ada parade gay yang kerap digelar di sejumlah kota di India.

Tapi meski ada tekanan begitu kuat dari kelompok-kelompok konservatif, pemerintah baru-baru ini memutuskan untuk tidak menentang putusan Pengadilan Tinggi Delhi.

Pakar hukum seperti Justice Mukul Mudgal memuji langkah pemerintah ini.

“Ini menunjukkan kedewasaan dan keinginan untuk melangkah maju sesuai jaman. Demokrasi yang dewasa diperlihakan dengan adanya demokrasi yang mentolerir perbedaan, mentoleransi gaya hidup yang berbeda, dan mentoleransi gaya hidup yang tidak Anda suka. Ini adalah kehebatan dari konstitusi kami. Ini adalah inklusivitas dan ini mengembangkan konstitusi kami.”

Masa pembahasan Mahkamah Agung masih berlanjut – kedua belah pihak meneruskan kampanyenya demi meraup dukungan.

Kelompok konservatif yang membuat petisi ini yakin kalau putusan pengadilan akan sepaham dengan mereka.

Sementara aktivis LGBT seperti Gautam Bhan yakin, pengadilan bakal berpikiran terbuka.

“Yang kami inginkan adalah percakapan yang ramai, kami mau hak kami diperdebatkan sebagai warga negara yang punya hak setara. Pengadilan Tinggi memberi kami hak itu. Putusan itu tidak mengatur bagaimana Anda harus berpikir tentang kelompok gay. Ini memberi tahu kalau mereka adalah warga negara dan demokrasi konstitusional – tak peduli apa opini moral Anda – adalah moral konstitusi. Warga negara punya kesetaraan, ini yang membuat India sebagai negara demokrasi. Yang kami inginkan dari Mahkamah Agung adalah mari kita menjadi warga negara, dan mari memperjuangkan hak yang setara. Kami akan melangsungkan debat ini, kami akan sangat berisik soal ini. Karena di mana ada kericuhan, di situ ada inklusivitas.”

sumber berita : http://www.asiacalling.kbr68h.com

sumber gambar : http://www.zimbio.com

Kama Dalam Wahyu Dan Tafsir

Jakarta. Di dalam mitologi India, kisah tentang dewa Kama atau dewa cinta merupakan salah satu kisah yang sangat memikat. Manmata, atau yang lebih dikenal dengan nama Kama, adalah putra dari Brahma. Menggunakan busur panahnya ia dapat menaklukkan siapa pun dengan sihir cintanya. Dalam suatu kejadian bahkan Dewa Shiva yang sedang bermeditasi dapat dibuat terpikat dengan kecantikan Parvati. Kisah dewa Kama dapat diinterpretasikan sebagi berikut: bahwa siapa pun, dewa agung seperti Shiva sekalipun, dapat tunduk di ujung panah sang dewa cinta.

Dalam hidup ini, tidak ada yang lebih penting daripada relasi cinta dan manifestasinya menjadi relasi seksual. Kama dalam bahasa Sanskerta dapat diterjemaahkan sebagai cinta, tetapi lebih dari itu, Kama juga dimengerti sebagai, nafsu, keinginan, kesenangan sensual, atau gairah erotis. Pembahasan ini akan mendalami bagaimana erotisisme tersebut penting dalam menjelaskan manusia sebagai subjek. Bahwa manusia terlahir dengan kesadaran akan gairahnya dan juga ekspektasinya terhadap keindahan suatu hasrat tersebut.

I.Tubuh dan Paganisme
Dalam karyanya The Use of Pleasure, Michel Foucault menjelaskan bagaimana banal atau dangkalnya pemahaman manusia tentang seksualitas. Relasi seksual dipandang oleh Foucault selalu direduksi menjadi relasi yang rigid dan mekanistis. Seks selalu dikaitkan dengan bentukan-bentukan asumsi sosial, yang selalu melibatkan nilai moral, nilai agama, perspektif politis dan norma sosial. Foucault di dalam The Use of Pleasure ingin keluar dari anggapan yang sangat banal ini, lebih lanjut lagi, ia ingin menyampaikan bahwa ada segi lain tentang tubuh yang selama ini dilalaikan atau bahkan direpresi.

Dalam bagian problematisasi yang dirumuskan oleh Foucault, ia membedakan antara dua konsep seksualitas yang sangat berbeda, yang pertama adalah budaya seksualitas Kristiani dan yang kedua adalah budaya seksualitas Pagan. Pembedaan ini bisa kita ekstremkan, bahwa yang dimaksud oleh Foucault adalah bagaimana kebudayaan Barat sangat berbeda dalam memahami seksualitas, khususnya bila diperbandingkan dengan Timur, “For example, the meaning of the sexual act itself; it will be said that Christianity associated it with evil, sin, The Fall, and death….”3 Foucault menilai bahwa kebudayaan Kristiani menggaungkan glorifikasi penahanan diri, kesucian tubuh yang lepas dari keduniawian atau sifat kedagingan manusia.

Semenjak kemunculan era Fajar Budi peradaban mengikat manusia dengan identifikasi bahwa manusia adalah makhluk rasional. Rasionalitasnya merupakan penyebab keunikan serta penentu dalam konsep humanitasnya. Rasio menjadi satu-satunya instrumen yang dipercaya dan dipentingkan untuk memahami realitas. Namun realitas tidak cukup diserap serta dipahami hanya melalui akal. Realitas harus dirasakan, demikian pandangan filsafat Timur akan mendebat penekanan berlebih pada fungsi rasio.

Tubuh bukanlah suatu objek yang dengan mudahnya dapat diteliti lalu disimpulkan secara reduktif dan sempit. Tubuh bukan sekadar kesatuan organ-organ atau sebatas kulit dan daging. Tetapi keberadaan tubuh lebih substansial daripada perihal anatomi semata. Tubuh adalah tujuan untuk mencapai rasa, dalam pengertian ini, tubuh bukanlah terbatas pada perannya sebagai alat, tetapi tubuh merupakan tujuan itu sendiri. Pertanyaan yang muncul adalah, tujuan seperti apa yang dimutlakkan oleh tubuh? Filsfat dari Kama Sutra memandang bahwa kenikmatan adalah suatu yang absolut bagi tubuh. Tujuan serta hakikat dari tubuh adalah untuk merasakan kenikmatan. Kembali kepada Foucault, ia berpendapat bahwa manusia bukanlah sebatas makhluk yang rasional, menurutnya manusia adalah makhluk yang berhasrat,

“I felt obliged to study the games of truth in the relationship of self with self and the forming of oneself as a subject, taking as my domain of reference and field of investigation what might be called the history of desiring man.”

Dalam pembentukan seseorang menjadi subjek bagi Foucault erat kaitannya dengan bagaimana ia memahami hasrat serta betapa mendasarnya hasrat-hasrat tersebut bagi eksistensinya. Teknik ini, “aesthetic existence” menurut Foucault menjadi sangat penting bagi subjek, karena subjek menyibak realitasnya melalui manifestasi hasrat-hasrat tersebut. Ia memahami dirinya serta tubuh-tubuh yang lainnya melalui eksistensi estetis tersebut.
Dalam subbab tentang “Aphrodisia” Foucault mengutip Plato,“The desires that led to the aphrodisia were classed by Plato among the most natural and necessary.” Kebutuhan seksual bagi Plato tidak saja alamiah, tetapi niscaya sebagai penopang keberlangsungan spesies manusia. Ini adalah justifikasi etis mengapa seks harus berlangsung, bahwa relasi seksual diperuntukkan atas alasan-alasan kebaikan bagi umat manusia. Dalam filsafat Timur, khususnya dalam sastra seperti Kama Sutra, tidak perlu ada pembenaran terhadap kenyataan mengapa relasi seksual terjadi, atau rasionalisasi mengapa seks tersebut penting. Relasi seksual menjadi penting karena tubuh mensyaratkan pemuasan. Bahwa pemuasan itu mendasar adanya.

Dalam pengertian Foucauldian, “seksualitas kaum pagan” adalah seksualitas yang memberikan tempat tinggi bagi kenikmatan sebagai hal dipuja dan dipandang baik. Mengapa demikian? Karena seks dalam Kama Sutra maupun Sastra Kama lainnya, bukan melulu persoalan mencapai kepuasan atau persoalan tanggung jawab sosial untuk propagasi, secara radikal, seksualitas adalah tentang merasakan. Yakni, menyaksikan, menyentuh keindahan dari intensitas relasi tubuh. (Sumber: http://salihara.org)

Makalah dapat di unduh:

kama_-_lg_saraswati_dewi

Homoseksual Bukan Penyakit Menular | OurVoice

Penyuka sesama jenis atau biasa disebut homoseksual memang bukan hal baru. Namun saat pertama kali mengetahuinya, sering membuat seseorang merasa gundah.

Dr Mirriam Stoppard dalam bukunya ‘Panduan Kesehatan Keluarga’ mengulas mengenai isu tentang homoseksual atau gay.

Dia menjelaskan, bahwa seseorang yang menyadari adanya sesuatu yang lain dalam kecenderungan seksualitasnya, akan merasa sungguh-sungguh berbeda dari keluarga dan teman-teman, dan ini merupakan pengalaman yang sangat mengucilkan dan tidak menyenangkan.

“Mereka akan merasa semakin buruk jika mendengar teman dan keluarga mencela atau menghina kaum gay,” imbuhnya.

Lebih lanjut Stoppard menjelaskan, pengalaman tersebut cenderung membuat banyak kaum gay merasa bersalah dan malu, dan kemudian merahasiakan ini.

Sebagian besar orang tidak tahu bahwa ada sejumlah orang yang tertarik secara seksual dengan orang yang berjenis kelamin sama.

Walaupun, persentase gay dalam populasi tidak kecil, tidak ada yang mengetahui jumlah sebenarnya karena ada rentang yang begitu besar antara heteroseksual sejati dan homo seksual sejati.

“Banyak anak muda  memiliki perasaan atau pengalaman homoseksual, tapi hal ini tidak muncul lagi pada seksualitas mereka saat dewasa,” jelasnya. Masih menurutnya, homoseksual tidak akan menular dan terjadi begitu saja pada seorang individu.

“Bukti medis menunjukkan, bahwa orientasi seksual seseorang telah terbentuk sebelum usia lima tahun.  Jadi kecil kemungkinan seorang remaja ‘berubah’ menjadi homoseksual atau lesbian hanya dengan melakukan kontak dengan seorang gay lain, walaupun ini bisa memunculkan orientasi yang tadinya tersembunyi,” tandasnya.

Yang penting bukan bertanya mengapa seseorang menjadi homoseksual karena genetis atau lingkungan, tetapi bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu tanpa rasa benci dalam bentuk apapun. Karena kita juga selama ini tidak pernah mempertanyakan mengapa seseorang bisa menjadi heteroseksual?  (Sumber : Okezone.com dan ourvoice.or.id)